Selasa, 03 Mei 2016

5. HAIBAH DAN UNS

Rasa takut disertai rasa hormat luar biasa (haibah) dan sukacita jiwa (uns) merupakan tahap dari derajat-derajat dalam al-qabdh dan al-basth. Kalau qabdh berada diatas tingkat khauf, dan basth di atas tingkat raja', maka haibah lebih tinggi daripada qabdh, kemudian uns lebih sempurna daripada basth.
(catatan MEI:  Maksudnya, uns lebih tinggi tahapnya. Sebab haibah muncul dari qabdh, yang bermula dari khauf.  Sedangkan uns muncul dari raja'. Karena orang yang takut kepada Allah swt. melihat kekurangan dirinya di hadapan Allah, hatinya akan terganggu oleh-Nya,  dan yang tersisa hanyalah sibuk dengan Allah,  sehingga muncullah haibah. Siapa yang wushul-nya terus menerus,  kalbunya akan lapang dan mendapatkan uns.)

Hak haibah adalah keghaiban. Setiap pelaku haibah senantiasa lebur dalam keghaiban. Orang-orang yang berada dalam ghaib frekuensinya berbeda dalam haibah menurut penjelasan mereka dalam keghaiban.

Sedangkan hak uns adalah pencerahan dalam kebenaran. Orang yang melakukan uns, berarti cerah jiwanya. Kemudian frekuensinya berbeda menurut penjelasan dalam bagian "minuman jiwa".  Mereka berkata, "Tempat terendah dalam al-uns adalah jika seseorang dilempar ke dalam neraka Jahanam, sama sekali sukacitanya tidak terpengaruh."

Al-Junayd r.a. berkata, "Aku mendengar batinku berkata, 'Seorang hamba bisa sampai pada suatu batas seandainya wajahnya tertebas pedang, sama sekali tidak merasakannya.'  Sedangkan dalam hatiku ada sesuatu, hingga tampak jelas bahwa persoalannya sampai sedemikian itu."

Diriwayatkan dari Ahmad bin Maqatil al-'Ikky, ia berkata,  "Aku memasuki tempat asy-Syibly, sedangkan beliau tengah mencabut helai bulu alisnya dengan sebuah penjepit. Aku katakan kepadanya, 'Wahai Tuanku, Anda berbuat demikian pada diri sendiri,  sementara rasa pedihnya kembali pada hatiku.'  Ia menjawab,  'Celaka Anda! Hakikat itu tampak padaku, dan aku tidak kuat memikulnya. Maka, beginilah, aku memasuki kepedihan atas diriku, siapa tahu akan merasakannya, lalu tertutup dariku. Aku tak menemukan kepedihan itu.  Dan tidak tertutup dariku, sedangkan kepedihan itu membuatku tidak tahan'."

Kondisi haibah dan uns, walaupun masing-masing tampak jelas, bagi ahli hakikat masih dikategorikan kurang,  karena keduanya mengandung perubahan pada diri hamba.  Sedangkan yang tidak berubah, dinamakan ahli tamkin.  Mereka hangus dalam wujud nyata.  Tidak ada haibah dan tiada pula uns, tidak ada ilmu maupun rasa.

Cerita ini dikenal dari Abu Sa'id al-Kharraz:  "Suatu saat di kampung  aku berkata:
Aku datangi, maka aku tak mengerti dari mana, siapa aku,
kecuali apa yang dikatakan manusia
pada diriku dan dalam jenisku,
Aku datangi jin dan manusianya
Jika tak kutemui seorang pun,
aku datangi diriku.

Kemudian ada bisikan lembut menyusup ke dalam kalbuku:
Amboi,  siapa yang tahu sebab-sebab
yang lebih luhur wujud-nya,
lalu ia bersukaria dengan kesesatan yang hina
dan dengan manusia.
Kalau engkau dari ahli wujd yang hakiki
pastilah engkau gaib dari Jagad, Arasy dan Kursy
Sedang engkau tanpa kondisi ruhani bersama Allah
Jauh dari mengingat,
pada jin dan manusia."

Pondok Al-Qusyairi, 25/7/1437 H

MEI

Gambar ilustrasi 
Lukisan karya 
Syeikh DR. KH. Luqman Hakim, MA 
Syeikh Thoriqoh Syadziliyyah 

Senin, 02 Mei 2016

4. QABDH DAN BASTH

Kedua istilah itu merupakan kondisi ruhani setelah seorang hamba menahapi tingkah laku al-khauf dan ar-raja'.  Al-Qabadh di mata seorang arif sama kedudukannya dengan tahap al-Khauf di mata pemula. Sedangkan al-basth, setara kedudukannya dengan ar-raja' di mata pemula yang mencari jalan kepada Allah swt.

Perbedaan antara Qabdh, Khauf, Basth, dan Raja'
- Al-Khauf:  Muncul dari sesuatu di masa depan,  terkadang takut kehilangan sang kekasih, atau datangnya sesuatu yang ditakuti.
-Ar-Raja': Membayangkan sang kekasih di masa depan atau sesuatu yang ditampakkan akan kehilangan yang ditakuti,  serta yang dibenci, bagi mereka yang pemula [dalam dunia Sufi].
-Al-Qabdh: Tahap ruhani yang maknanya yang dihasilkan dalam waktu seketika, begitu juga basth.

Orang yang mempunyai khauf dan raja',  hatinya bergantung dalam dua kondisi waktu di depannya. Sedangkan yang memiliki qabdh dan basth, waktunya diambil oleh yang mengalahkan dalam kekinian.
Hanya saja predikatnya terpaut dalam qabdh dan basth menurut keterpautan ihwal mereka. Dari segi yang datang, qabdh menjadi keharusan, namun menetapi sesuatu yang lain, karena tak terpenuhi. Dan dari segi yang tergenggam (al-maqbudh), tidak ada jalan selain dominasi pendatang di dalam dirinya. Karena diambil secara keseluruhan dari pihak pendatang tersebut.

Demikian pula yang dileluasakan (al-mabsuth): Kadang-kadang di dalamnya ada basth yang membuat sang makhluk menjadi luas, sehingga tidak takut terhadap segala hal. Ia menjadi mabsuth, tiada sesuatu pun berpengaruh di dalamnya, dari satu ihwal ke ihwal lain.

Saya mendengar Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata, "Sebagian orang memasuki tempat Abu Bakr al-Qihthy. Disana ada seorang anak sedang bermain sebagaimana permainan anak-anak muda lainnya [yang bisa merusak kalbunya]. Orang-orang itu melewati tempat anak tersebut, dan tampaknya ia tenggelam dalam permainan dengan teman-temannya. Mereka merasa iba kepada al-Qihthy, seraya berkata, 'Kasihan Syeikh, bagaimana digoda oleh anak-anak yang jelek itu?'  Ketika mereka memasuki rumah al-Qihthy, ia menemuinya seakan-akan tak ada berita sedikitpun soal mainan-mainan itu, lalu mereka pun heran.  Mereka berkata, 'Anda menebus orang yang tidak dapat dipengaruhi oleh puncak-puncak bukit?"  Al-Qihthy menjawab, 'Sesungguhnya kami telah dibebaskan dari belenggu segala hal dalam Azali'." (Artinya, ia tenggelam dalam keparipurnaan ubudiyah kepada Allah swt., sehingga tidak ada yang berpengaruh selain Allah swt.)

Kewajiban terendah dalam qabdh, adanya subyek dalam hatinya yang mengharuskan bentuk isyarat cacat pada diri, atau adanya rumus yang didalamnya seseorang berhak untuk bersopan-santun (adab), sehingga dalam kalbunya mendapatkan qabdh.

Terkadang yang datang dalam kalbunya merupakan isyarat untuk mendekat, atau yang diterima merupakan kelembutan dan ketentraman sehingga kalbu mendapatkan basth. Secara global, qabdh masing-masing pelaku tergantung kualitas basth-nya, begitu juga basth-nya diukur menurut qabdh-nya.

Terkadang sebab-musabab qabdh menimbulkan musykil bagi pelakunya. Dalam kalbunya ditemukan qabdh yang tidak dimengerti apa keharusan dan sebabnya.  Keharusan yang dijalani pelaku seperti ini adalah taslim, sehingga waktu seperti itu berlalu. Sebab jika dicari,  justru akan menghalanginya. Atau ia menghadap waktu sebelum jatuh padanya, lewat ikhtiarnya, sehingga berharap qabdh-nya bertambah. Barangkali hal itu tergolong su'ul adab. Jika menyerahkan diri pada hukum waktu, maka dari dekat akan menghilangkan al-qabdh. Sesungguhnya Allah swt. berfirman:
والله يقبض ويبسط وإليه ترجعون
Artinya: "Dan sesungguhnya Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Q.s. al-Baqarah: 245).

Terkadang basth datang seketika,  tanpa si pelaku tahu sebabnya, sehingga dia pun terkejut. Jalan yang harus ditempuh,  jika demikian,  dia harus tenang dan menjaga adab. Pada waktu itu,  dia sedang mengalami bisikan yang besar.  Karena itu,  si pelaku harus menghindari makar yang samar di dalamnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian Sufi, "Telah dibuka padaku, pintu basth, kemudian diriku terguncang hebat, lantas aku pun tertutup dari maqamku."  Karenanya berkatalah mereka, "Bertetaplah pada kelapangan (al-bisath) dan hati-hatilah, berupaya melapangkan."

Ada ahli hakikat (tahqiq) mengkategorikan perilaku qabdh dan basth tergolong sesuatu yang mereka mohonkan perlindungan. Karena keduanya disandarkan pada yang di atasnya berupa tahap kehancuran hamba, sedangkan upaya hamba memasukinya dalam dunia hakikat dapat melahirkan fakir dan bahaya.

Al-Junayd, "Al-khauf dari Allah membuatku tergenggam. Dan ar-raja' dari Allah membuatku lapang. Hakikat telah mengumpulkan diriku. Dan Al-Haq memisahkanku. Apabila Dia membuatku tergenggam adalah khauf, Dia menjadikan diriku fana' dari diriku. Apabila ar-raja' melapangkanku, Dia mengembalikan kepadaku. Apabila diriku terintegrasi hakikat, maka Dia menghadirkanku. Apabila aku dipisahkan Al-Haq, aku disaksikan oleh selain diriku, kemudian menutupiku. Allah swt. dalam semua hal itu adalah penggerakku tanpa mengekangku, Dia yang membuatku takut tanpa gembiraku. Aku, dengan kehadiranku, merasakan rasa wujud-ku. Fana'ku datang dari diriku,  membuatku nikmat,  atau menggaibkan dariku, sehingga aku ringan."

Baiti Jannati, 24/7/1437 H.

MEI

Lukisan Ilustrasi 
Karya Sang Guru 
SYEIKH LUQMAN HAKIM 

Minggu, 01 Mei 2016

3. HAAL

Al-Haal (kondisi ruhani), menurut banyak orang merupakan arti yang intuitif dalam hati;  tanpa adanya unsur sengaja,  usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau sukacita. Maka setiap al-haal merupakan karunia.  Dan setiap maqam adalah upaya. Pada al-haal, datang dari wujud itu sendiri, sedang  al-maqam diperoleh melalui upaya perjuangan.  Orang yang memiliki maqam, menempati maqam-nya, dan orang-orang yang berada dalam haal, bebas dari kondisinya.

Salah seorang guru berkata, "Beberapa al-haal seperti kilatan, kalau menetap, itu sekadar omongan nafsu."

Mereka berkata, "Al-Haal itu sebagaimana namanya, yakni,  al-haal seperti ketika menempati dalam kalbu,  kemudian hilang:

Kalau tidak menempati, pasti tidak dinamakan haal
Dan setiap yang menempati, pastilah hilang
Lihatlah pada bayangan ketika sampai ujungnya
Berkuranglah ketika ia memanjang.

Beberapa kalangan mengisyaratkan abadinya al-haal.  Mereka berkata, "Sebenarnya jika al-haal tidak abadi dan tidak terdelegasi, itu hanyalah kilatan belaka. Pelakunya tidak sampai pada al-haal yang sebenarnya. Apabila predikat tersebut menetap terus,  dinamakan al-haal."

Disinilah Abu Utsman al-Hiry berkata, "Aku tidak pernah benci terhadap maqam yang telah diberikan Allah swt. kepadaku."  Ia mengisyaratkan ketetapan abadinya dalam ridha. Dan ridha merupakan bagian dari al-haal.

Seharusnya dikatakan: Orang yang mengisyaratkan abadinya al-haal, maka apa yang dikatakannya benar. Terkadang al-haal berarti bagian dari seseorang, kemudian terpelihara di dalamnya. Tetapi yang memiliki al-haal ini memiliki beberapa ihwal, yaitu: Jalan-jalan yang tak menetap di atas ihwal-ihwalnya yang menjadi bagiannya. Bila jalan-jalan yang ditempuh menetap secara konsisten, seperti menetapnya ihwal-ihwal tersebut,  ia naik ke ihwal yang lebih lembut. Dan begitulah selanjutnya, naik ke tahap seterusnya.

Pondok Al-Qusyairi,  23/7/1437 H.

MEI

Gambar ilustrasi 

Sabtu, 30 April 2016

2. MAQAM

Maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya,  di-wujud-kan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadhah menuju kepada-Nya.

Syaratnya,  seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqam ke maqam lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqam tersebut. Barangsiapa yang belum sepenuhnya qana'ah,  belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan siapa yang belum bisa tawakkal, tidak sah ber-taslim. Siapa yang tidak bertobat,  tidak sah pula ber-inabat. Dan siapa yang tidak wara', tidak sah untuk ber-zuhud.

Al-Maqam berarti iqamah, sebagaimana kata al-madkhal berarti idkhaal,  dan al-makhraj berarti al-ikhraaj.  Tidak seorangpun sah menahapi suatu maqam, kecuali dengan penyaksian terhadap kedudukan Allah swt. terhadap dirinya dengan maqam tersebut,  yang dengannya struktur bangunan ruhaninya benar menurut pondasi yang shahih.

Saya mendengar Abu Ali as-Daqqaq r.a. berkata,  "Ketika al-Wasithy masuk ke Naisabur,  bertanyalah ia kepada para santri Abu Utsman, 'Apa yang diperintahkan syekh kalian kepada kalian?'   Mereka menjawab,  'Kami diperintah untuk menetapi taat serta melihat dan meneliti penyimpangan di dalamnya.'  Maka al-Wasithy berkata,  'Syekh kalian memerintah dengan cara Majusi murni? Apakah syekh kalian tidak memerintah diri kalian dengan hal yang ghaib dengan memandang kepada Yang Memunculkan dan Menjalankan yang ghaib?'  Maksud al-Wasithy dengan kata-kata itu, agar mereka menjaga diri dari posisi takjub. Bukannya menaiki ke arah wilayah penyimpangan atau keteledoran (taqshir), karena yang demikian itu bisa merasukkan adanya cacat dalam adab.

B.S. Darussalamah, 22/7/1437 H

MEI

Gambar Ilustrasi MAQAM 

Jumat, 29 April 2016

1. WAKTU

Esensi Waktu (al-waqt) menurut penelaah ahli hakikat, adalah suatu peristiwa yang terbayangkan, yang hasilnya dikaitkan pada peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang terjadi merupakan waktu bagi peristiwa yang dibayangkan (akan datang). Seperti kalimat, 'Engkau didatangi awal bulan', maka 'kedatangan' merupakan sesuatu yang terbayang. Sedangkan awal bulan adalah sesuatu yang terjadi nyata. Awal bulan berarti waktu bagi kedatangan.

Saya mendengar Syekh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata,  "Waktu adalah sesuatu yang engkau berada di dalamnya.  Kalau engkau di dunia, maka waktumu adalah dunia. Bila di akhirat, maka waktumu adalah akhirat. Ketika engkau senang, maka senang itulah waktumu. Kalau engkau susah, susah itulah waktumu."  Maksud syekh tadi, waktu memiliki definisi yang umum bagi manusia.

Ada kalanya waktu diartikan sebagai zaman. Ada kalangan yang mengatakan, waktu merupakan sesuatu antar dua zaman:  Yang lampau dan yang akan datang.

Mereka juga mengatakan, bahwa seorang Sufi merupakan anak sang waktu.  Kalimat tersebut dimaksudkan, bahwa sang Sufi disibukkan dengan prioritas utama yang harus dikerjakan ketika itu,  mandiri terhadap perolehan seketika.

Dikatakan, "Orang fakir tidak mementingkan apa yang telah lewat dan yang akan tiba dalam waktunya, tetapi lebih mementingkan apa yang ada pada saat itu."   Dikatakan,  "Menyibukkan terhadap waktu yang berlalu, berarti menelantarkan waktu berikutnya."

Terkadang mereka bermaksud mendefinisikan waktu sebagai sesuatu yang dilakukan oleh Al-Haq kepada mereka tanpa adanya pilihan bagi diri mereka. Mengatakan [si Fulan dengan hukum waktu], yakni:  Fulan menyerahkan diri kepada yang tampak dari yang ghaib tanpa usahanya sendiri.  Yaitu dalam hal yang tidak masuk kategori perintah Allah swt., atau terapan menurut hukum syariat.  Karena adanya penelantaran terhadap apa yang diperintah dan merekayasa dalam waktu untuk mengalahkan takdir, disamping meninggalkan kepedulian terhadap sesuatu yang Anda hasilkan melalui penyimpangan, berarti keluar dari agama.

Mereka berkata, "Waktu adalah pedang." Sebagaimana fungsi pedang itu sendiri untuk memotong. Maka waktu, disebabkan oleh kebenaran yang berlalu, yang memenangkan kebenaran akan melewatinya.

Dikatakan, "Pedang sangat halus sentuhannya, namun tajam sayatannya. Barangsiapa menghindarinya (berkelit) akan selamat dan barangsiapa menentangnya akan tertebas dan jatuh dalam kehancuran."

Seperti dalam bait ini:
Dan seperti pedang
jika tak mencegahnya untuk menyentuh tajamnya, kalau mengasari tergoreslah.

Barangsiapa ditolong sang waktu,  maka waktu hanya baginya.  Dan barangsiapa menentangnya, sang waktu pun akan marah kepadanya.

Saya mendengar Syekh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Waktu adalah pembubut yang akan menggilasmu, namun tidak melenyapkanmu. Yakni, jika melenyapkan dan menyirnakanmu, pasti bersih ketika dirimu sirna. Akan tetapi waktu mengambilmu,  tanpa melenyapkanmu sama sekali."

Sang Syekh bersyair:
Setiap hari ia lewat meraih tanganku
Memberikan penyesalan dalam hatiku
kemudian ia berlalu.

Dalam syair pula:
Seperti penghuni neraka
jika kulit-kulitnya terpanggang matang
kembali pula kulit itu,
bagi suatu penderitaan.

Dikatakan:
Bukanlah orang mati itu
orang istirahat sebagai mayit
Tapi orang mati itu
Kematian hidupnya.

Orang cerdas adalah orang yang berada dalam hukum waktunya.
Apabila waktunya adalah sadar dalam Ilahi (ash-shaw), maka ia tegak mandiri dengan syariat.  Apabila waktunya adalah sirna dalam Ilahi,  yang kompeten adalah hukum-hukum hakikat.

Ponpes Al-Qusyairiy, 21 Rajab 1437 H.

MEI

Ilustrasi 

Kamis, 28 April 2016

II. TERMINOLOGI TASAWUF

Ketahuilah, bahwa setiap golongan dari para ulama mempunyai terminologi praktis yang selalu menjadi patokan. Mereka, dengan penggunaan kata-kata tersebut, melakukan internalisasi yang berbeda dengan lainnya, sebagaimana mereka sepakati untuk tujuan mereka, agar dipahami kelompok massanya, atau terpaku pada makna-maknanya secara global. Mereka menggunakan kata-kata yang dimengerti oleh mereka, dengan maksud agar makna di dalamnya hanya bagi mereka, membuat tirai bagi orang yang menentang tharikatnya, agar makna kata-kata mereka menjadi samar bagi orang lain, sebagai bentuk fanatis terhadap rahasia-rahasia mereka, agar tidak tersebar kepada yang bukan ahlinya.  Sebab hakikat mereka bukanlah kumpulan dari ragam tugas,  atau tertarik oleh macam upaya.  Namun, tasawuf merupakan makna-makna yang telah diciptakan Allah swt. dalam setiap kalbu kaum Sufi, dan hakikat-hakikatnya tersari dari rahasia-rahasia kaum Sufi tersebut.

Kami bermaksud menjelaskan kata-kata tersebut agar mudah difahami oleh orang yang mau bersikukuh mendalami makna-maknanya dari mereka yang menempuh jalan tasawuf dan mengikuti tradisi mereka.*

*Ungkapan dari para Sufi sering kontra terhadap sebab logika duniawi, ketika mereka menguraikan tentang kondisi ruhani, hasrat dan bisikan hatinya, serta rasa terdalam nya. Ungkapan itu tidak bisa menggambarkan kilatan atau rasa yang begitu cepat,  dan sulitnya mencari wujud serupa dalam realitas.

Baitussujud Darussalamah, 20 Rajab 1437 H

MEI

Gambar Ilustrasi 

Rabu, 27 April 2016

ALLAH SWT. YANG HAQ

Para syaikh dari thariqoh ini mengatakan soal tauhid:  Sesungguhnya Al-Haq adalah Maujud, Qadim, Esa, Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahakasih, Maha Menghendaki, Maha Mendengar, Mahaagung, Mahaluhur, Mahabicara, Maha Melihat, Mahabesar, Mahahidup, Mahatunggal, Mahaabadi, dan segalanya bergantung kepada-Nya.

Allah Maha Mengetahui dengan sifat Ilmu, Mahakuasa dengan sifat Qudrat, Maha Menghendaki dengan sifat Iradat,  Maha Mendengar dengan sifat Sam',  Maha Melihat dengan sifat Bashar, Mahabicara dengan Kalam, dan Mahahidup dengan Hayat, serta Mahaabadi dengan Baqa'.

Allah mempunyai Dua Hasta kekuasaan (Dua Yad) yang merupakan sifat-sifat yang dengannya menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Mahasuci Allah dari segala keharusan menentukan,  dan hanya bagi-Nya wajah yang bagus.

Sifat-sifat Dzat-Nya hanya khusus bagi Dzat-Nya, tidak bisa dikatakan bahwa sifat tersebut adalah Dia, dan bukan pula sifat-sifat tersebut sebagai bujukan bagi-Nya. Tetapi adalah sifat-Nya Yang Azali dan Abadi.

Allah adalah Tunggal Dzat-Nya, Yang tidak disamai oleh segala ciptaan, dan tidak diserupai oleh semua makhluk.

Allah bukan jasad, materi,  benda dan bukan sifat baru, tidak tergambar oleh khayal, tak terjangkau akal, tidak berpenjuru dan bertempat. Tiada waktu dan zaman yang berlaku bagi-Nya. Dan tidak ada penambahan dan pengurangan bagi sifat-sifat-Nya.

Allah tidak dikhususkan oleh bentuk, tidak dipotong oleh pangkal dan batas, tidak ditempati yang baru, tidak didorong ketika berbuat. Tiada warna dan tempat bagi-Nya, dan tidak ada pula pertolongan untuk menolong-Nya.

Dari kekuasaan-Nya tidak muncul yang terkira,  dan dari hukum-Nya tidak diragukan oleh penyimpangan. Dari ilmu-Nya tidak tersembunyi oleh yang diketahui-Nya. Dan Dia tidak dicaci atas pekerjaan-Nya, bagaimana Dia mencipta dan apa yang dicipta. Tidak bisa dikatakan kepada-Nya: Di mana Dia, dan bagaimana Dia? Dan wujud pun tidak akan berupaya membuka-Nya, sehingga muncul kata-kata: Kapan Ada? Keabadian-Nya tidak ada pangkalnya, sehingga dikatakan, "Melampaui kekinian dan zaman." Tetapi Allah tidak bisa dikatakan: Mengapa Dia berbuat terhadap sesuatu?  Karena, tidak ada sebab langsung terhadap pekerjaan-Nya.

Allah juga tidak bisa dipertanyakan: Apakah Dia? Karena Allah bukanlah jenis yang ditandai oleh sejumlah tanda bentuknya.  Dia melihat bukan dengan cara berhadapan. Dan Dia melihat kepada selain Diri-Nya, bukan dengan penyerupaan. Dia mencipta, tidak dengan langsung dan mencoba-coba.

Dia memiliki Asma'ul Husna dan Sifat-sifat Luhur. Dia melakukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan memberi penghinaan kepada hamba-Nya lewat hukum-Nya. Dalam kerajaan-Nya tidak ada yang berjalan kecuali atas kehendak-Nya, dan tidak terjadi dalam kerajaan-Nya melainkan yang telah didahului qadha'. Apa yang diketahui dari ciptaan-Nya, maka hal itu dikehendaki-Nya. Dan apa yang diketahui sebagai sesuatu yang tidak terjadi dari apa yang wenang. Dia berkehendak untuk tidak terjadi.

Allah adalah Pencipta rezeki hamba-hamba-Nya, kebaikan dan keburukan rezeki itu. Allah pula yang menciptakan alam dari materi dan submateri. Allah Yang Mengutus utusan untuk para umat, bukan sebagai kewajiban bagi-Nya. Allah sebagai Dzat Yang disembah manusia melalui lisan para Nabi a.s., tidak seorang pun berpeluang untuk mencaci dan menentang-Nya. Dan Nabi kita Muhammad saw. ditetapkan melalui mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang cemerlang, yang tidak memberi keuzuran, dan memberi penjelasan meyakinkan serta mengenalkan mana yang mungkar.  Khulafaur-Rasyidin yang menjaga kemilaunya Islam setelah wafat Nabi saw.,  selanjutnya dijaga oleh generasi yang memagari kebenaran dan penolongnya yang menjelaskan lewat hujjah agama melalui lisan para auliya'-Nya. Umat Nabi saw. terjaga dari kesesatan ketika melakukan ijma'.  Dan rekayasa kebatilan sirna melalui dalil-dalil yang ditegakkan. Semuanya dilakukan oleh para pejuang agama,  karena firman Allah swt.:
ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون
Artinya: "Agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (QS. ash-Shaff: 9).

Baitussujud Darussalamah, 19 Rajab 1437 H.

MEI 

Ilustrasi