Buya selalu gunakan tradisi Fiqh aktsaru min qaulayn
Tasawuf bukanlah doktrin tambahan bagi kandungan al-Qur'an dan as-Sunnah. Tapi lebih merupakan implementasi bagi kerangka agung Islam dalam praktek keseharian jiwa hamba Allah yang beriman, dalam mewujudkan cita-cita hakiki dari sumber ajaran Islam itu sendiri. Karenanya, dengan menyibak cakrawala tasawuf orisinal dalam Ar Risalah Al Qusyariyah ini, kesalahpahaman tentang tasawuf bisa di tashih. Diterjemahkan; ditulis ulang oleh: KH. DR. Luqman Hakim, MA, SHI.; KH. Muhammad E. Irmansyah, SHI.
Sabtu, 29 Juli 2017
Selalu Ada Lebih Dari Dua Pendapat.
Buya selalu gunakan tradisi Fiqh aktsaru min qaulayn
Sabtu, 21 Mei 2016
7. JAM' DAN FARQ
إِيَّاكَ نَعبُدُ
Artinya: "Hanya kepada-Mu kami menyembah", merupakan isyarat terhadap al-farq. Sedangkan firman-Nya:
وَإِيَّاكَ نَستَعِينُ
Artinya: "dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan", merupakan isyarat al-jam'.
dalam rahasiaku
Lalu lisanku munajat pada-Mu
Kita berkumpul bagi makna-makna
dan berpisah bagi makna-makna pula
Jika Gaib-Mu adalah
Keagungan dari lintasan mataku
Toh Engkau buat keserasian dari dalam
yang mendekatku.
Keagungan, lalu keluar dalam tingkah orang yang tak dikehendaki
Maka aku berkumpul dan berpisah dengan-Nya
Sedang ketunggalan yang saling bertemu
adalah dua dalam satu bilangan.
Jumat, 06 Mei 2016
6. TAWAJUD, WUJD DAN WUJUD
dan pelaku tiada lagi sulit membuka
lalu kurobek mata, tanpa cela.
Karena yang tampak padaku dalam syuhud (penyaksian).
Lalu mutiara tumbuh dari bumi emas,
Sedang kaum menyucikan karena kagum
pada cahaya air di dalam api dari anggur yang ranum,
diwarisi 'Aad dari negeri Iram
sebagai simpanan Kisra, mulai dari nenek moyangnya.
Selasa, 03 Mei 2016
5. HAIBAH DAN UNS
Rasa takut disertai rasa hormat luar biasa (haibah) dan sukacita jiwa (uns) merupakan tahap dari derajat-derajat dalam al-qabdh dan al-basth. Kalau qabdh berada diatas tingkat khauf, dan basth di atas tingkat raja', maka haibah lebih tinggi daripada qabdh, kemudian uns lebih sempurna daripada basth.
(catatan MEI: Maksudnya, uns lebih tinggi tahapnya. Sebab haibah muncul dari qabdh, yang bermula dari khauf. Sedangkan uns muncul dari raja'. Karena orang yang takut kepada Allah swt. melihat kekurangan dirinya di hadapan Allah, hatinya akan terganggu oleh-Nya, dan yang tersisa hanyalah sibuk dengan Allah, sehingga muncullah haibah. Siapa yang wushul-nya terus menerus, kalbunya akan lapang dan mendapatkan uns.)
Hak haibah adalah keghaiban. Setiap pelaku haibah senantiasa lebur dalam keghaiban. Orang-orang yang berada dalam ghaib frekuensinya berbeda dalam haibah menurut penjelasan mereka dalam keghaiban.
Sedangkan hak uns adalah pencerahan dalam kebenaran. Orang yang melakukan uns, berarti cerah jiwanya. Kemudian frekuensinya berbeda menurut penjelasan dalam bagian "minuman jiwa". Mereka berkata, "Tempat terendah dalam al-uns adalah jika seseorang dilempar ke dalam neraka Jahanam, sama sekali sukacitanya tidak terpengaruh."
Al-Junayd r.a. berkata, "Aku mendengar batinku berkata, 'Seorang hamba bisa sampai pada suatu batas seandainya wajahnya tertebas pedang, sama sekali tidak merasakannya.' Sedangkan dalam hatiku ada sesuatu, hingga tampak jelas bahwa persoalannya sampai sedemikian itu."
Diriwayatkan dari Ahmad bin Maqatil al-'Ikky, ia berkata, "Aku memasuki tempat asy-Syibly, sedangkan beliau tengah mencabut helai bulu alisnya dengan sebuah penjepit. Aku katakan kepadanya, 'Wahai Tuanku, Anda berbuat demikian pada diri sendiri, sementara rasa pedihnya kembali pada hatiku.' Ia menjawab, 'Celaka Anda! Hakikat itu tampak padaku, dan aku tidak kuat memikulnya. Maka, beginilah, aku memasuki kepedihan atas diriku, siapa tahu akan merasakannya, lalu tertutup dariku. Aku tak menemukan kepedihan itu. Dan tidak tertutup dariku, sedangkan kepedihan itu membuatku tidak tahan'."
Kondisi haibah dan uns, walaupun masing-masing tampak jelas, bagi ahli hakikat masih dikategorikan kurang, karena keduanya mengandung perubahan pada diri hamba. Sedangkan yang tidak berubah, dinamakan ahli tamkin. Mereka hangus dalam wujud nyata. Tidak ada haibah dan tiada pula uns, tidak ada ilmu maupun rasa.
Cerita ini dikenal dari Abu Sa'id al-Kharraz: "Suatu saat di kampung aku berkata:
Aku datangi, maka aku tak mengerti dari mana, siapa aku,
kecuali apa yang dikatakan manusia
pada diriku dan dalam jenisku,
Aku datangi jin dan manusianya
Jika tak kutemui seorang pun,
aku datangi diriku.
Kemudian ada bisikan lembut menyusup ke dalam kalbuku:
Amboi, siapa yang tahu sebab-sebab
yang lebih luhur wujud-nya,
lalu ia bersukaria dengan kesesatan yang hina
dan dengan manusia.
Kalau engkau dari ahli wujd yang hakiki
pastilah engkau gaib dari Jagad, Arasy dan Kursy
Sedang engkau tanpa kondisi ruhani bersama Allah
Jauh dari mengingat,
pada jin dan manusia."
Pondok Al-Qusyairi, 25/7/1437 H
MEI
Senin, 02 Mei 2016
4. QABDH DAN BASTH
Kedua istilah itu merupakan kondisi ruhani setelah seorang hamba menahapi tingkah laku al-khauf dan ar-raja'. Al-Qabadh di mata seorang arif sama kedudukannya dengan tahap al-Khauf di mata pemula. Sedangkan al-basth, setara kedudukannya dengan ar-raja' di mata pemula yang mencari jalan kepada Allah swt.
Perbedaan antara Qabdh, Khauf, Basth, dan Raja'
- Al-Khauf: Muncul dari sesuatu di masa depan, terkadang takut kehilangan sang kekasih, atau datangnya sesuatu yang ditakuti.
-Ar-Raja': Membayangkan sang kekasih di masa depan atau sesuatu yang ditampakkan akan kehilangan yang ditakuti, serta yang dibenci, bagi mereka yang pemula [dalam dunia Sufi].
-Al-Qabdh: Tahap ruhani yang maknanya yang dihasilkan dalam waktu seketika, begitu juga basth.
Orang yang mempunyai khauf dan raja', hatinya bergantung dalam dua kondisi waktu di depannya. Sedangkan yang memiliki qabdh dan basth, waktunya diambil oleh yang mengalahkan dalam kekinian.
Hanya saja predikatnya terpaut dalam qabdh dan basth menurut keterpautan ihwal mereka. Dari segi yang datang, qabdh menjadi keharusan, namun menetapi sesuatu yang lain, karena tak terpenuhi. Dan dari segi yang tergenggam (al-maqbudh), tidak ada jalan selain dominasi pendatang di dalam dirinya. Karena diambil secara keseluruhan dari pihak pendatang tersebut.
Demikian pula yang dileluasakan (al-mabsuth): Kadang-kadang di dalamnya ada basth yang membuat sang makhluk menjadi luas, sehingga tidak takut terhadap segala hal. Ia menjadi mabsuth, tiada sesuatu pun berpengaruh di dalamnya, dari satu ihwal ke ihwal lain.
Saya mendengar Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata, "Sebagian orang memasuki tempat Abu Bakr al-Qihthy. Disana ada seorang anak sedang bermain sebagaimana permainan anak-anak muda lainnya [yang bisa merusak kalbunya]. Orang-orang itu melewati tempat anak tersebut, dan tampaknya ia tenggelam dalam permainan dengan teman-temannya. Mereka merasa iba kepada al-Qihthy, seraya berkata, 'Kasihan Syeikh, bagaimana digoda oleh anak-anak yang jelek itu?' Ketika mereka memasuki rumah al-Qihthy, ia menemuinya seakan-akan tak ada berita sedikitpun soal mainan-mainan itu, lalu mereka pun heran. Mereka berkata, 'Anda menebus orang yang tidak dapat dipengaruhi oleh puncak-puncak bukit?" Al-Qihthy menjawab, 'Sesungguhnya kami telah dibebaskan dari belenggu segala hal dalam Azali'." (Artinya, ia tenggelam dalam keparipurnaan ubudiyah kepada Allah swt., sehingga tidak ada yang berpengaruh selain Allah swt.)
Kewajiban terendah dalam qabdh, adanya subyek dalam hatinya yang mengharuskan bentuk isyarat cacat pada diri, atau adanya rumus yang didalamnya seseorang berhak untuk bersopan-santun (adab), sehingga dalam kalbunya mendapatkan qabdh.
Terkadang yang datang dalam kalbunya merupakan isyarat untuk mendekat, atau yang diterima merupakan kelembutan dan ketentraman sehingga kalbu mendapatkan basth. Secara global, qabdh masing-masing pelaku tergantung kualitas basth-nya, begitu juga basth-nya diukur menurut qabdh-nya.
Terkadang sebab-musabab qabdh menimbulkan musykil bagi pelakunya. Dalam kalbunya ditemukan qabdh yang tidak dimengerti apa keharusan dan sebabnya. Keharusan yang dijalani pelaku seperti ini adalah taslim, sehingga waktu seperti itu berlalu. Sebab jika dicari, justru akan menghalanginya. Atau ia menghadap waktu sebelum jatuh padanya, lewat ikhtiarnya, sehingga berharap qabdh-nya bertambah. Barangkali hal itu tergolong su'ul adab. Jika menyerahkan diri pada hukum waktu, maka dari dekat akan menghilangkan al-qabdh. Sesungguhnya Allah swt. berfirman:
والله يقبض ويبسط وإليه ترجعون
Artinya: "Dan sesungguhnya Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Q.s. al-Baqarah: 245).
Terkadang basth datang seketika, tanpa si pelaku tahu sebabnya, sehingga dia pun terkejut. Jalan yang harus ditempuh, jika demikian, dia harus tenang dan menjaga adab. Pada waktu itu, dia sedang mengalami bisikan yang besar. Karena itu, si pelaku harus menghindari makar yang samar di dalamnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian Sufi, "Telah dibuka padaku, pintu basth, kemudian diriku terguncang hebat, lantas aku pun tertutup dari maqamku." Karenanya berkatalah mereka, "Bertetaplah pada kelapangan (al-bisath) dan hati-hatilah, berupaya melapangkan."
Ada ahli hakikat (tahqiq) mengkategorikan perilaku qabdh dan basth tergolong sesuatu yang mereka mohonkan perlindungan. Karena keduanya disandarkan pada yang di atasnya berupa tahap kehancuran hamba, sedangkan upaya hamba memasukinya dalam dunia hakikat dapat melahirkan fakir dan bahaya.
Al-Junayd, "Al-khauf dari Allah membuatku tergenggam. Dan ar-raja' dari Allah membuatku lapang. Hakikat telah mengumpulkan diriku. Dan Al-Haq memisahkanku. Apabila Dia membuatku tergenggam adalah khauf, Dia menjadikan diriku fana' dari diriku. Apabila ar-raja' melapangkanku, Dia mengembalikan kepadaku. Apabila diriku terintegrasi hakikat, maka Dia menghadirkanku. Apabila aku dipisahkan Al-Haq, aku disaksikan oleh selain diriku, kemudian menutupiku. Allah swt. dalam semua hal itu adalah penggerakku tanpa mengekangku, Dia yang membuatku takut tanpa gembiraku. Aku, dengan kehadiranku, merasakan rasa wujud-ku. Fana'ku datang dari diriku, membuatku nikmat, atau menggaibkan dariku, sehingga aku ringan."
Baiti Jannati, 24/7/1437 H.
MEI
Minggu, 01 Mei 2016
3. HAAL
Al-Haal (kondisi ruhani), menurut banyak orang merupakan arti yang intuitif dalam hati; tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau sukacita. Maka setiap al-haal merupakan karunia. Dan setiap maqam adalah upaya. Pada al-haal, datang dari wujud itu sendiri, sedang al-maqam diperoleh melalui upaya perjuangan. Orang yang memiliki maqam, menempati maqam-nya, dan orang-orang yang berada dalam haal, bebas dari kondisinya.
Salah seorang guru berkata, "Beberapa al-haal seperti kilatan, kalau menetap, itu sekadar omongan nafsu."
Mereka berkata, "Al-Haal itu sebagaimana namanya, yakni, al-haal seperti ketika menempati dalam kalbu, kemudian hilang:
Kalau tidak menempati, pasti tidak dinamakan haal
Dan setiap yang menempati, pastilah hilang
Lihatlah pada bayangan ketika sampai ujungnya
Berkuranglah ketika ia memanjang.
Beberapa kalangan mengisyaratkan abadinya al-haal. Mereka berkata, "Sebenarnya jika al-haal tidak abadi dan tidak terdelegasi, itu hanyalah kilatan belaka. Pelakunya tidak sampai pada al-haal yang sebenarnya. Apabila predikat tersebut menetap terus, dinamakan al-haal."
Disinilah Abu Utsman al-Hiry berkata, "Aku tidak pernah benci terhadap maqam yang telah diberikan Allah swt. kepadaku." Ia mengisyaratkan ketetapan abadinya dalam ridha. Dan ridha merupakan bagian dari al-haal.
Seharusnya dikatakan: Orang yang mengisyaratkan abadinya al-haal, maka apa yang dikatakannya benar. Terkadang al-haal berarti bagian dari seseorang, kemudian terpelihara di dalamnya. Tetapi yang memiliki al-haal ini memiliki beberapa ihwal, yaitu: Jalan-jalan yang tak menetap di atas ihwal-ihwalnya yang menjadi bagiannya. Bila jalan-jalan yang ditempuh menetap secara konsisten, seperti menetapnya ihwal-ihwal tersebut, ia naik ke ihwal yang lebih lembut. Dan begitulah selanjutnya, naik ke tahap seterusnya.
Pondok Al-Qusyairi, 23/7/1437 H.
MEI
Sabtu, 30 April 2016
2. MAQAM
Maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujud-kan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadhah menuju kepada-Nya.
Syaratnya, seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqam ke maqam lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqam tersebut. Barangsiapa yang belum sepenuhnya qana'ah, belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan siapa yang belum bisa tawakkal, tidak sah ber-taslim. Siapa yang tidak bertobat, tidak sah pula ber-inabat. Dan siapa yang tidak wara', tidak sah untuk ber-zuhud.
Al-Maqam berarti iqamah, sebagaimana kata al-madkhal berarti idkhaal, dan al-makhraj berarti al-ikhraaj. Tidak seorangpun sah menahapi suatu maqam, kecuali dengan penyaksian terhadap kedudukan Allah swt. terhadap dirinya dengan maqam tersebut, yang dengannya struktur bangunan ruhaninya benar menurut pondasi yang shahih.
Saya mendengar Abu Ali as-Daqqaq r.a. berkata, "Ketika al-Wasithy masuk ke Naisabur, bertanyalah ia kepada para santri Abu Utsman, 'Apa yang diperintahkan syekh kalian kepada kalian?' Mereka menjawab, 'Kami diperintah untuk menetapi taat serta melihat dan meneliti penyimpangan di dalamnya.' Maka al-Wasithy berkata, 'Syekh kalian memerintah dengan cara Majusi murni? Apakah syekh kalian tidak memerintah diri kalian dengan hal yang ghaib dengan memandang kepada Yang Memunculkan dan Menjalankan yang ghaib?' Maksud al-Wasithy dengan kata-kata itu, agar mereka menjaga diri dari posisi takjub. Bukannya menaiki ke arah wilayah penyimpangan atau keteledoran (taqshir), karena yang demikian itu bisa merasukkan adanya cacat dalam adab.
B.S. Darussalamah, 22/7/1437 H
MEI